POTENSI penggunaan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) sebagai sumber energi terbarukan di Indonesia belum maksimal dimanfaatkan. Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada 2016 menunjukkan potensi energi surya di Indonesia diperkirakan 207.898 Megawatt (MW), paling besar jika dibandingkan dengan energi terbarukan yang dimiliki negara ini antara lain air 75.091 MW, angin 60.647MW dan panas bumi 29.544 MW. Meski demikian, potensi itu belum terealisasi karena salah satu tantangan investasi PLTS ialah biaya yang cukup besar.

“Indonesia dan Malaysia masih menyubsidi listrik yang sumbernya dari batu bara dan gas, padahal industri PLTS ini sudah termasuk kompetitif bisa dijalankan tanpa subsidi dan dari segi lingkungan dapat mengurangi jejak karbon yang berdampak pada perubahan iklim.”

kapasitas PLTS atau solar panel yang sudah terinstal baru 78,5 MW atau pemanfaatan 0,04% dari total potensi yang ada. Disampaikannya, investor akan tertarik mengembangkan PLTS di Indonesia apabila harganya bersaing. Sejauh ini, pemasangan instalasi energi surya di Indonesia, terang Eka, banyak dimanfaatkan oleh industri atau pengguna listrik surya atap (solar rooftop) tapi belum secara masif digunakan.

Berdasarkan Undang-Undang No. 30/2007 tentang Energi bahwa Indonesia menargetkan bauran energi dari terbarukan sebesar 23% pada 2023. Ia pun mengatakan PLTS penting untuk dipertimbangkan sebagai salah satu sumber energi terbarukan pada masa mendatang untuk keberlanjutan energi ketika batu bara dan gas habis.

“PLTS sangat potensial di Indonesia karena terletak di garis ekuator sehingga sinar matahari cenderung konstan didapatkan.”

Pemerintah sudah memberikan ruang dalam Peraturan Menteri (Permen) Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 49 Tahun 2018 tentang Penggunaan Sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya Atap oleh Konsumen PT PLN, ada nilai keekonomisan yang bisa didapat para pengguna yaitu panel surya hemat listrik.